CahyaniSeptember 11th 1980 (Age 29) Well, u are now entering my site of thoughts.
Hope u'll enjoy these monologs.
Don't hesitate!
|
 |
September 9, 2009
Sebelum tidur aku membacakan buku berjudul "I Love Islam" pada Husna. Tentu saja aku tidak membacakan persis seperti isi bukunya karena berbahasa inggris melainkan menggunakan terjemahan bebasku saja.. Ketika tiba pada bagian Puasa di bulan ramadhan, Kumkum bertanya pada ayahnya kenapa kita harus berpuasa? Karena Allah memerintahkan kita berpuasa. Allah sayang pada orang-orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa nanti boleh masuk surga.
Husna,"Surga itu apa, Mi?". "Surga itu tempat yang enaaaaak banget. Di dalamnya ada buah-buahan yang manis-manis." . "Kelengkeng!" Kata Husna. "Iyyaa..terus ada mangga, rambutan, jeruk, pokoknya buah yang enak-enak deh. Trus kalo Kaka pengen eskrim, ada. Mau yang pink, ada. Putih, ada. Coklat, ada." Hmm.... matanya langsung berbinar-binar.
"Kalau mau masuk surga harus rajin solat, puasa..."kataku. "Kaka rajin solat, sama puasa". "Trus harus sayang sama kaka-adik, sayang sama umi-abi, sama temen juga...". "Ga boleh mukul ya, Mi? Azzam sama Asad suka mukul tuh Mi..." Husna. "Ya..kakak kasih tau mereka kalau mau masuk surga jangan suka mukul..."
Husna tersenyum, di matanya ada tekad akan mengajari sepupu-sepupunya esok hari tentang pelajaran hari ini. Surga.
Posted at 9/9/2009 10:56:44 pm by Cahyani
next
May 13, 2009
From The X-Files to We Got Married, I know I’m still the same girl
Awalnya adalah saat adikku menunjukkan sebuah tayangan reality show dari korea berjudul We Got Married. Ceritanya, ada beberapa artis korea yang dipasangkan pura-pura untuk menjalani kehidupan pernikahan pura-pura sehari penuh tiap pekannya. Dinamika pernikahan pun akan terlihat sedikit banyak dari interaksi antara pasangan pura-pura itu.
Menurut kebiasaan Korea yang penuh penghormatan dan sopan santun, kecanggungan para pasangan itu membuat acara ini lumayan menarik. Lalu ada satu pasangan ini yang menarik perhatianku karena gaya mereka yang menyegarkan. Kim Hyun Joong dan Hwang Bo, disatuin jadi JoongBo. Setelah sekian lama sejak waktu SD dulu ketika nonton the simpson aku pun tertawa geli. Meskipun usia mereka berjarak enam tahun dengan si istri yang lebih tua, komentar sehari-hari mereka betul-betul memancing tawaku tak henti-hentinya. Pasangan yang satu ini sepertinya mempunyai kemistri yang berkembang diantara mereka, tak seperti pasangan pura-pura lainnya. Namun sekali lagi mereka adalah orang korea yang menjunjung tinggi budaya timurnya dan selalu menahan diri dari mengekspresikan perasaan.
Dan itulah yang membuat aku penasaran. Sungguhkah mereka hanya berinteraksi sepekan sekali di depan kamera saja? Ataukah di belakang layar mereka telah mengembangkan sebuah hubungan romantik yang tertutup dari publik? Hingga karena kesibukan masing-masing mereka dalam pekerjaan, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk melepaskan reality show ini. Dan membuat para penontonnya betul-betul kecewa. Kenapa mereka menahan diri dari menunjukkan ‘perasaan’ yang terasa jelas adanya namun tidak kasat mata. Gemes.
And that’s exactly the same reason why I kept following the X-Files series…
Justru karena cinta Mulder dan Scully yang terasa tidak juga pernah dinyatakan oleh mereka. Berdasarkan skenarionya memang begitulah yang membuat orang-orang penasaran. Menggemaskan…! Bila di film Hollywood lain hubungan cinta pastilah ditunjukkan dengan hubungan badan yang murah meriah, kita tidak akan menemukan hubungan badan sama sekali dalam film X-Files. Jangankan hubungan badan, sentuhan tangan selama satu detik atau tatapan mata selama dua detik saja sangat berharga bagi para penonton X-Files yang penuh harap..
Begitulah adanya. Dan itulah jenis romansa yang (mungkin) selalu berharga di mataku. Yang membuatku menunggu lanjutan serial X-Files itu adalah hal yang sama yang membuatku menyimpan rindu padamu (Goz). Dan karena dua tayangan itulah kutahu, aku masihlah orang yang sama seperti 13 tahun lalu.
Posted at 5/13/2009 6:21:52 pm by Cahyani
next
April 15, 2009
Sejak hasil quick count pertama kali keluar, sudah ada yang minta saya untuk membuat analisa. Meskipun berbagai pertanyaan muncul, tapi muaranya satu : mengapa PKS hanya dapat (sementara ini sekitar) 8% suara?
Hal pertama yang harus diklarifikasi adalah bahwa saya tidak memiliki basis data maupun latar belakang keilmuan yang cukup untuk memberikan analisa yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kedua, saya juga bukan orang yang berwenang dalam menentukan langkah-langkah strategis PKS ke depannya, sehingga tak mungkin bagi saya untuk memberitahukan bagaimana sikap resmi PKS berikutnya. Ketiga dan terakhir, setelah saya pikir-pikir, nampaknya analisa yang ada di otak saya terlalu rumit untuk dituangkan dalam sebuah artikel atau dalam pembicaraan-pembicaraan singkat lagi santai.
Yang lebih penting daripada analisa, hemat saya, adalah memberikan respon yang tepat terhadap semua fenomena. Penting sekali bagi setiap Muslim untuk terus mengingatkan dirinya bahwa hidup ini cuma aksi-reaksi. Allah SWT sebagai pemberi aksi, dan kita dituntut untuk memberikan reaksi yang tepat. Bocorannya sudah diberikan sejak dahulu kala. Rasulullah saw. pernah menjelaskan bahwa hanya ada dua hal yang menyebabkan kehidupan seorang Muslim begitu luar biasa, yaitu : sabar dan syukur. Respon yang perlu kita berikan tidak akan keluar dari yang dua ini.
Prinsip pertama yang harus dipegang adalah berprasangka baik kepada Allah SWT. Semua kehendak-Nya pasti terlaksana, dan tak ada satu pun ciptaan-Nya yang tanpa hikmah, baik berupa material maupun fenomena. Tapi tak cukup berhenti sampai titik itu. Kita pun wajib meyakini bahwa skenario yang dipilih oleh Allah adalah yang terbaik. Perbedaan dari evaluasi yang benar dengan menyesali nasib adalah pada perilaku berandai-andai. Sebenarnya akal manusia tidak punya kemampuan untuk menyusun skenario kehidupan, karena begitu banyaknya variabel yang terlibat.
Maka, pandanglah angka 8% itu dengan perasaan dekat dengan Allah. Jika hati merasa berat, maka bersabarlah. Kemudian cobalah tinjau fenomena ini dari berbagai perspektif yang akan membuat kita untuk mudah bersyukur.
Kenaikan dukungan dari 2,5% pada Pemilu 1999 menjadi 7,5% pada Pemilu 2004 tidak hanya ditanggapi dengan gegap gempita, namun ada juga sisi bahayanya. Kita sudah sama-sama mengalami tahapan ketika dakwah harus dilaksanakan seperti petak umpet dengan rejim penguasa. Kita juga mengalami tahapan ketika para da’i merasa gamang diterjunkan ke kancah politik. Kemudian, barangkali tempo hari adalah masa-masanya kita mencicipi euforia ketika dukungan dari masyarakat berlipat ganda dan PKS menjadi parpol yang sangat diperhitungkan. Namun pada saat yang bersamaan, ketika jatah kursi di DPR berlipat ganda, maka waktu pendewasaan diri bagi para kader pun disingkat hingga berkali-kali pula.
Pembagian tugas adalah sebuah keniscayaan. Ada yang harus duduk di Majelis Syuro, ada yang mesti menerima amanah di Dewan Syariah, ada yang ‘terpaksa’ menjadi pengurus DPP, DPW, DPD, DPC, hingga ke DPRa. Di luar jabatan struktural itu, ada juga yang mesti menjalani kaderisasi sebagai mutarabbi, ada pula yang menjadi murabbi (sekaligus mutarabbi juga, karena tarbiyah tidak mengenal kata ‘lulus’). Kenaikan suara yang signifikan tentunya memaksa kader untuk mengambil tanggung jawab yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Nampaknya, tidak semua kader siap.
Ini titik kekuatan sekaligus tantangan besar bagi PKS. PAN dan PMB, yang memiliki background Muhammadiyah, misalnya, punya sumber daya manusia yang sangat besar. Demikian pula PKB dan PKNU, mereka punya basis dengan SDM yang sangat masif. Di partai-partai lain, kadang kita temukan juga ‘kader karbitan’, yang pindah dari parpol satu ke parpol lainnya, lalu tiba-tiba menerima jabatan yang cukup tinggi. Politik uang atau apa, entahlah. Yang jelas, hal yang semacam ini sangat tidak disukai di PKS yang murni partai kader dengan jenjang kaderisasi yang sangat jelas.
Ketika dukungan naik menjadi 7,5%, tentunya tidak seluruhnya dari 7,5% itu merupakan kader. Banyak juga yang simpatisan; tidak terlibat di struktur PKS namun mendukung perjuangan PKS (dan tentunya, insya Allah memilih PKS). Jika angka 2,5% pada Pemilu 1999 cukup mendekati prosentase jumlah kader diantara keseluruhan masyarakat Indonesia, maka angka 7,5% pada Pemilu 2004 bergerak semakin jauh dari realita jumlah kader. Andaikan perbandingan kader dan simpatisan adalah 50:50, maka itu berarti hanya setengah dari 7,5% perolehan suara tersebut yang merupakan mesin politik PKS.
Target suara 20% dalam Pemilu 2004 juga mesti dilihat dari dua sisi. Tentu tidak ada salahnya mematok harapan setinggi langit, namun harus siap juga menghadapi kewajiban-kewajiban yang datang beserta cita-cita itu. Andaikan angka 20% benar-benar berhasil ditembus, itu artinya dukungan suara untuk PKS kembali berlipat ganda hingga nyaris tiga kali lipat. Kalau benar-benar mendapat 20% suara, bagaimanakah perbandingan antara kader dan simpatisan? Seberapa siapkah mesin politik PKS untuk mengelola tanggung jawab sebesar itu?
Kalau sudah bisa menerima angka 8% dengan hati lapang (baca : bersabar), tibalah gilirannya untuk bersyukur. Pandanglah angka 8% sebagai tanda cinta Allah kepada jalan dakwah ini. Segala puji bagi Allah yang tidak menuntut hamba-hamba-Nya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Kita punya waktu lima tahun lagi untuk membenahi apa-apa yang belum sempat kita benahi lima tahun ke belakang. Segala yang kendur bisa dikencangkan, yang lalai bisa dikoreksi, sementara mendewasakan diri untuk menerima tanggung jawab di marhalah dakwah berikutnya. Kita tidak perlu memaksa diri mengambil tanggung jawab ‘level 20%’ jika posisinya masih di ‘level 8%’.
Keadilan Untuk PKS
Menjelang Hari-H Pemilu 2009 kemarin, iklim perdebatan di kalangan umat Islam mencapai puncaknya. Dari wacana golput atau tidak golput, beralih pada topik kekecewaan terhadap parpol-parpol Islam, dan biasanya berujung pada kritik pedas terhadap PKS. PKS tidak seperti Al-Ikhwan Al-Muslimun lah, PKS tidak seperti Masyumi lah, PKS tidak seperti PK lah, dan seterusnya.
Nampaknya memang sikap paling bijak dalam menyikapi debat kusir adalah meninggalkannya. Kita semua (termasuk saya) harus belajar untuk mengimani sungguh-sungguh petuah Rasulullah saw. tentang hal ini. Pada akhirnya, debat kusir hanya mencederai ego masing-masing. Yang salah akan mencari pembenaran, dan yang benar akan menghadapi resiko sombong (ingat, yang sombong takkan masuk surga!). Kalau atmosfernya sudah dipenuhi keinginan untuk saling menjatuhkan, itulah saatnya untuk mundur.
Sebagian orang ‘menyerang’ PKS simply karena memang tidak suka. Akibatnya, setiap isu negatif soal PKS akan langsung dicerna, bahkan disebarluaskan ke milis-milis. Asalkan berita tentang PKS itu buruk, mereka akan langsung percaya tanpa mengecek sanad-nya. Kadang-kadang berita semacam itu mereka ambil dengan mudahnya dari media-media sekuler yang jelas-jelas memusuhi Islam, bahkan mereka pun pernah membicarakan tentang keberpihakan media-media tersebut kepada kekuatan anti-Islam. Untuk berita yang lain, mereka mau tabayyun. Untuk berita soal PKS, lain lagi hukumnya. Kalau mau direpotkan oleh yang seperti begini, maka waktu 24 jam sehari akan habis begitu saja. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mendesain rencana ke depannya untuk menangkis berita-berita tidak benar tentang PKS.
PKS memang seringkali diperlakukan tidak adil oleh sebagian pihak. Kalau melihat fenomena parpol-parpol Islam yang sulit bersatu, tiba-tiba semua pandangan diarahkan ke PKS, seolah-olah PKS-lah biang kerok tidak terwujudnya persatuan tersebut. Kemudian jika ada satu saja keburukan PKS, maka orang akan bersikap seolah-olah PKS adalah yang paling buruk dari semua parpol, bahkan yang paling buruk diantara semua parpol.
Banyak orang menyindir PKS karena menunjukkan keinginan untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat. Menurut mereka, PKS hanya akan dimanfaatkan saja oleh kekuatan sekuler di partai itu. Tapi ketika PKS menunjukkan sikap tegasnya belakangan ini (yaitu untuk menimbang ulang koalisi jika Partai Golkar ikut-ikutan dalam koalisi), nyaris tak ada yang mau memberikan apresiasinya. Padahal, sikap tegas ini menunjukkan bahwa PKS pun siap menunjukkan integritasnya untuk kepentingan umat. “Sungguh, umat terdahulu ada yang digergaji kepalanya dan disisir oleh sisir besi, namun mereka tidak mundur dari agamanya. Sungguh, demi Allah, urusan ini akan disempurnakan kelak. Akan tetapi kalian terlalu terburu-buru.” Begitulah penggalan nasihat Rasulullah saw. kepada umatnya yang kurang bersabar. Ingin berlagak raksasa padahal masih kelas liliput.
PKS memang banyak kekurangan, namun tidak jarang juga difitnah. Dari sekian banyak berita bohong yang disebarluaskan itu, berapakah yang dikembalikan dengan sebuah permintaan maaf? Sepanjang pengamatan saya di berbagai milis, belum ada. Mereka yang menebar berita bohong tentang PKS sama sekali enggan meminta maaf meskipun beritanya sudah terbukti bohong. Insiden memalukan yang kerap terjadi ini semestinya tidak membuat hati kita susah. Jelaslah bahwa diskusi yang sehat dengan oknum-oknum semacam ini sudah nyaris tak mungkin terjadi, karena egonya sudah mendahului akal dan moralnya. Jika mereka tak sanggup bersikap adil, barangkali memang kitalah yang ditakdirkan untuk menjadi orang yang lebih besar hatinya.
Melarikan Diri ?
Beredar pula sugesti-sugesti negatif. “Dulu saya aktif di PK. Sekarang, saya sudah muak. PKS tidak sama dengan PK. Militansinya jauh beda. Kualitas kader menurun jauh. Buat apa saya habiskan waktu dengan jamaah yang seperti ini?”
Buang waktu atau tidak, itu sepenuhnya keputusan dirinya sendiri. Jika memang tidak mampu lagi mengambil manfaat, maka itu adalah kelemahan dirinya sendiri. Hampir semua orang yang menyatakan dirinya ‘mantan aktifis PK / PKS yang kecewa berat’ tidak mau (atau tidak mampu) membuktikan klaimnya. Ada beberapa orang yang saya kenal dengan karakter seperti itu, namun ternyata ia bukan aktifis dimana-mana. Aktifisme yang dibangga-banggakannya di masa lalu itu cuma sebatas halaqah pekanan dan beberapa kepanitiaan saja, itu pun statusnya cuma ‘bantu-bantu’, bukan Ketua Panitia atau apalah. Sama dungunya seperti pernyataan Arbania Fitriani yang konon ‘membongkar rahasia PKS’ sebagai parpol yang hendak menyebarluaskan kultur Arab di Indonesia.
Para pengkhianat takkan pernah jadi kader yang baik. Komprador akan dipandang rendah, baik di negerinya sendiri maupun di negeri penyandang dananya. Paling tinggi, ia hanya akan jadi alat bagi orang lain.
Dalam pandangan saya, orang yang melarikan diri dari jamaah (jamaah apa pun, asalkan masih dalam tubuh umat Islam) ketika ia menjumpai kekurangan di dalamnya, sebenarnya telah memelihara sikap khianat dalam dirinya. Yang seperti ini takkan pernah puas, karena jamaah impiannya (yaitu jamaah yang sempurna tanpa cela) takkan pernah eksis. Lagipula, sikap mental meninggalkan kelompok yang butuh bimbingan bukanlah modal yang baik bagi seorang da’i (ingat kisah Nabi Yunus as.?). Meskipun ilmu agamanya selangit, namun jika masih terus-terusan menjadi barisan sakit hati, pasti bukan da’i namanya, dan pasti bukan dakwah kerjanya.
Mau kecewa sampai kapan? Mereka yang gampang memisahkan diri dari jamaah biasanya hanya jadi penggembira dan pengamat, bukan pekerja yang sesungguhnya. Paling banter hanya akan jadi Khawarij umat ini, dan bukannya Bilal ra. yang memompa semangat di Perang Badar, atau pasukan pemanah yang tidak ikut silau matanya dengan harta rampasan di Perang Uhud. Lucu juga membayangkan apa jadinya jika pasukan pemanah pada Perang Uhud itu terbagi dua : kelompok yang pertama lari menyongsong harta rampasan, kelompok yang kedua diam di posnya masing-masing kemudian kecewa dengan jamaah dan pergi meninggalkan medan perang. Di medan perang manapun, mereka yang pergi meninggalkan teman-temannya ketika tenaganya justru sangat dibutuhkan tidak akan pernah dicatat dalam sejarah.
Seorang pembawa acara di sebuah stasiun televisi swasta nampak kebingungan ketika ust. Hidayat Nur Wahid menceritakan sekelumit sejarah di balik berdirinya PK. Banyak orang tak menyangka bahwa dulunya beliau termasuk kelompok yang tidak setuju didirikannya parpol. Namun beliau tunduk pada syura’, memahami resiko dari pilihan yang diambil, dan konsisten bersama jamaah ini, menghadapi senang dan susahnya. Siapakah yang namanya lebih besar, ust. Hidayat ataukah barisan sakit hati yang hanya bersama kita di saat senang?
Bersabarlah, dan bersyukurlah. Jalan masih panjang.
---Akmal Sjafril--
Posted at 4/15/2009 2:26:57 pm by Cahyani
next
Banyak orang suka hidup dalam kenyamanan kebiasaan turun temurun, dan dalam apa yang 'wajar' dijalani oleh 90% masyarakat. Akupun sebetulnya tidak suka berkonfrontasi, tapi bila aku sudah memutuskan suatu hal yang penting dan kuanggap sangat penting...maka mungkin aku lebih suka bergeming pada keputusan itu, walaupun kontroversial kelihatannya. Seperti misalnya ketika aku....
'menawarkan lowongan pendamping hidup' pada suamiku.... yang sempat membuat sahabat-sahabat terbaikku mempertanyakan kelurusan niatku..
lalu ketika aku...
mengusulkan dan mendukung ide melepas status pns pada suami... yang sempat membuat orangtuanya tidak setuju, dan orangtuaku bertanya-tanya....
berikutnya, aku akan mendidik anakku dengan didikan rumahan, bukan sekolahan... walaupun sekolah gratis...!!! Ini pastinya juga akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih banyak di keluarga kami...
Dan seakan belum cukup, aku berencana untuk membuat anakku 'mampu' memenuhi (minimal sebagian) dari biaya hidupnya sendiri pada usia 12 - 15 tahun. Dan sepenuhnya mandiri ketika usianya 17 tahun. Mungkin ia akan tinggal terpisah dari kami saat itu, ataupun bila tinggal bersama maka ia akan harus membayar sewa kamarnya. InsyaAllah.
Kejam? Tidak sama sekali. Aku baru saja mendengar kisah khadimatku yang keempat anak laki-lakinya masih tinggal bersamanya, makan gratis dan dicucikan pakaiannya oleh ibunya meskipun sudah masuk usia menikah... Apa mereka pikir orangtuanya akan hidup selamanya untuk menyuapi mereka? Wake up boys..!
Posted at 4/15/2009 1:50:59 pm by Cahyani
next
April 8, 2009
Belajar menjadi ibu yang baik
Hari ini aku menyadari, bahwa gelombang perasaan anakku merupakan reaksi dari gelombang perasaanku.
Beberapa hari terakhir Husna bersikap sensitif, emosional, nyolot... bukan hanya kepadaku tapi juga kepada kawan-kawan mainnya yaitu sepupunya. Rupanya, selain memang sedang ga enak badan karena batuk pilek, dia juga menyimpan gelombang kegelisahan karena sering kumarahi. Memang akhir-akhir ini aku sering memarahi dan mengancamnya karena makannya terlalu lama. Bahkan bukan hanya saat makan aku memarahinya tapi juga setiap kali dia bersikap 'cari perhatian berlebihan'. Berkali-kali dalam sehari aku marah lagi dan lagi...
Penyebab aku marah biasanya adalah karena aku tidak sabar meladeninya makan, mandi, bab, juga setiap kali dia bertengkar dengan sepupunya. Aku gelisah karena Husna dan juga anak-anak lainya selalu ribut bermain di rumah ketika bayiku sedang tidur. Aku tidak merasakan kedamaian karena setiap saat selalu khawatir bayiku akan terbangun karena keberisikan, lalu aku tidak akan bisa melakukan apapun selain menggendongnya. Padahal Husna juga tiap sebentar memintaku untuk memperhatikannya. Aku terganggu oleh konstannya perasaan khawatir tidak akan bisa mengerjakan apapun dengan tenang.
Sampai tadi, karena Husna demam malam sebelumnya maka aku lebih memperhatikannya dan tidak memaksanya memakan apapun dan membiarkan dia memilih makanan apa yang diinginkannya. Sebanyak atau sesedikit apapun yang masuk ke mulutnya kubiarkan dilakukannya sendiri. Daripada dia memuntahkan lagi makanannya dan perutnya makah jadi kosong sama sekali. Si Bayi Hamzah yang tenang selama ada yang gendong, hanya dibawa pulang oleh khadimatku untuk kususui. Dan selebihnya dia diletakkan di kain ayunan di rumahnya atau rumah kakak iparku sepanjang hari tadi. Alhamdulillah Bayi Hamzah budak bageur...anak baik, tidak rewel dipegang siapapun.
Lalu apa yang terjadi pada Husna? Dia kembali menjadi anak 3 tahun yang damai.. Mendapat cukup perhatian dari uminya, dan tidak dimarahi. Aku pakai metode baru bila dia tidak menuruti kataku, aku bilang aku akan marah kalau dia tidak menurut..hanya saja, kali ini marahku tidak pakai urat tapi dengan diam sama sekali dan tidak bereaksi pada panggilannya. Dia akan paham kalau aku marah kemudian berusaha meluruskan sikapnya dengan patuh dan berskap manis sampai aku mau melihatnya lagi... Dia panggil "umi...umi... sambil mengelus rambutku atau tanganku, dan membatalkan niatnya untuk kabur dari tidur siang. "Husna ga jadi main umi...". Manis sekali.
Posted at 4/8/2009 1:38:41 am by Cahyani
next
Sebuah Ting..!
Aku baru saja menyadari sekali lagi, betapa mewahnya berada dalam situasi mencintai dan dicintai pada saat yang bersamaan. Tidak heran, para pasangan yang akhirnya bisa bersatu berjalan bagai tidak menapak bumi dan tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari.
Mataku melihat dan memperhatikan...hatiku pun tersenyum. Betapa beruntungnya aku..! Mencintai dan dicintai oleh seorang kekasih, oleh anak-anak, oleh orangtua dan adik-adikku, oleh keluarga besarku... dan seterusnya...
Namun lebih dari itu, rupanya Allah selalu memberiku apapun yang diidamkan oleh hatiku. Alhamdulillah...inilah kemewahan...
Posted at 4/8/2009 1:36:47 am by Cahyani
next
April 3, 2009
Aku menyukai betapa selusin akhwat alumni Fe Trisakti angkatan 98 mantan anggota Rohis fakultas berkumpul kembali dalam arisan bulanan...
Yang lebih kusukai, semua akhwat itu kecuali satu orang saja (mungkin tak akan lama pula) juga terlibat di dunia maya melalui facebook. Maka kami pun mengarrange pertemuan bulanan itu melalui facebook, dan kupikir seandainya kami bisa memesan makanan dari facebook pula tentunya arisan itu sendiri akan bisa diselenggarakan melalui facebook saja. 
Posted at 4/3/2009 1:31:07 pm by Cahyani
next
March 26, 2009
(Bagaikan) Tinggal di hotel (lanjut dengan curhat)....
Aku mulai betah tinggal di rumah baru ini.. secara, rasanya seperti tinggal di hotel saja...
Kenapa begitu? Well, pertama, di sini setiap hari ada khadimat pp yang datang untuk cuci-cuci dan beres-beres rumah. Walaupun aku pergi keluar dari pagi sampai malam, ketika aku balik lagi ke rumah keadaannya sudah rapi jali seperti di hotel. Seakan-akan aku menggantungkan tulisan 'tolong bereskan' di pintu rumah (hotelku).
Kedua, manakala aku membutuhkan sesuatu seperti makanan atau apapun, aku tinggal telpon atau sms suamiku yang sedang kerja untuk membelikannya untukku dalam perjalanan pulang nanti. Delivery call.
Yang harus kulakukan tinggal menyiapkan makan pagi siang sore untuk anak-anak, dan mengurusi mereka... Itupun kalau mereka menuntut perhatian berbarengan terus menerus maka aku akan mulai 'merasa terganggu' dan tersulut...
Aku jadi melihat pekerjaan rumah sebagai hal remeh-temeh saja dibandingkan dengan mengurusi anak. Hehehe... Soalnya pekerjaan rumah tidak akan menjerit untuk mendapatkan perhatian sekarang juga, atau menangis bila dibiarkan...
Nyatanya sekarang, bila aku sendirian saja di rumah (karena husna sedang main dan hamzah digendong orang lain) satu jam saja, maka aku akan bisa menyelesaikan tiga sampai empat pekerjaan sekaligus. Masak, ngepel, nyapu kebon, dll. Perlu diketahui, walaupun ada khadimat pp di rumah bukan berarti aku tidak melakukan apa-apa karena yang namanya anak-anak itu selalu menciptakan 'kreativitas' yang akan segera memberi kesan rumah ini tidak dibereskan sama sekali...
Posted at 3/26/2009 7:17:13 am by Cahyani
next
eternal flame, psikologi (beberapa) wanita dalam mencintai
Close your eyes, give me your hand, darling Do you feel my heart beating, do you understand? Do you feel the same, am I only dreaming? Is this burning an eternal flame?
I believe it's meant to be, darling I watch when you are sleeping, you belong to me Do you feel the same, am I only dreaming Or is this burning an eternal flame?
Say my name, sun shines through the rain A whole life so lonely, and then you come and ease the pain I don't want to lose this feeling
(The Bangles)
Eternal flame menjadi bahan obrolanku dengan suami kemarin ketika dalam perjalanan pulang di radio terdenar lagu ini.
"Perhatikan liriknya" kataku "I dont want to lose this feeling...."
Bagi si penulis lirik, yang penting adalah tidak kehilangan perasaan mencintai. Dia bukannya tidak mau kehilangan si kekasih, yang tidak diinginkannya hanyalah perasaan mencintainya. Artinya dia bersama dengan siapapun yang dia cintai itu tidak masalah asalkan cinta itu ada.
The feeling is the one that matter... the state of loving.
Ini mengingatkanku akan beberapa orang tentang "kecanduan mencintai".
Sebelum akhirnya menikah dengan orang yang sangat dicintainya, mereka pernah mencintai beberapa orang lainnya.
Mereka menyukai keadaan mencintai itu. Ketika mereka menyadari bahwa perasaan mereka sudah expired atau sudah tidak mungkin lagi tetap mencintai seseorang, mereka akan mencari-cari siapa kiranya orang berikutnya yang akan mereka cintai.
Ini bukan berarti mereka plin-plan, tidak sama sekali. Karena ketika mereka mencintai seseorang, mereka mencintainya dengan sepenuh hati. Menikmati setiap saat berada dalam harapan dan keriangan mendapatkan perhatian. Menikmati lonjakan perasaan setiap hari bila melihatnya. Itulah yang membuat hari-harinya jadi berwarna-warni.. Maka sebetulnya mereka mencintai keadaan mencintai itu, dan tidak penting siapa yang mereka cintai.
Posted at 3/26/2009 7:12:18 am by Cahyani
next
March 19, 2009
3 Year old
Patterns of Development Express himself with intelligible speech most of the time, using three to four word sentences. Understands and follows simple commands and directions Asks questions Concentrate, and stay with an activity for five to 10 minutes Jump on the spot without falling, and balance on one foot Partially dress himself Control fingers to pick up small objects, and handle scissors to a degree Control pencil with improved skill Copy a circle from a drawing Reproduce a cross when shown how Build towers with a few small blocks Place round, square and triangular blocks in a form board Trace a diamond on a large piece of paper Use thin, uncertain lines in their drawings Count to three Begin matching pictures Understand size perceptions. Hand tremors, eye blinking, and poor visual coorindination are part of growth changes and are temporary. Large muscle development is ahead of small muscle development Enjoy musical activities, and especially large muscle movements like running, jumping, galloping Enjoy finger plays, dramatizing stories and other things that can be easily interpreted through body and creative movement Curious and inquisitive Likes worlds of fantasy - very imaginative, like to pretend dress up Enjoy talking, especially about their own interests Like to learn new words Still egocentric - self is very important Like to play alone, beside others Prefer to be close to adults Anxious to please - like praise Outwardly express negative or positive feelings Often cries easily Developing independence and self reliance Develop fears Appetite increases Toileting on their own with occasional accidents May not nap or rest in afternoons
Cognitive Development talks so that 75 to 80 percent of his speech is understandable talks in complete sentences of 3-5 words. "Mommy is drinking juice. There's a big dog." stumbles over words sometimes - usually not a sign of stuttering enjoys repeating words and sounds listens attentively to short stories and books likes familiar stories told without any changes in words enjoys listening to stories and repeating simple rhymes able to tell simple stories from pictures or books enjoys singing and can carry a simple tune understands "now, soon, and later" asks who, what, where, and why questions stacks 5-7 blocks enjoys playing with clay or play dough (pounds, rolls, and squeezes it) can put together a 6-piece puzzle draws a circle and square recognizes common everyday sounds matches an object to a picture of that object identifies common colors such as red, blue, yellow, green can count 2-3 objects can solve problems if they are simple, concrete, real, and immediate, and if wants to interested in similarities and differences can distinguish, match, and name colors interested in features of animals that make them unique has good self-knowledge; can understand difference between self and younger children, but not between self and older children can say his age Repetition builds confidence: Preschoolers have so much they're trying to learn that they may need to hear a story many times before they really understand it. Pretty soon you'll both have it memorized!
MAGIC KINGDOM Make-believe is now a way of life. A 3-year-old takes every object, person, and event and wonderfully transforms them into other things. He makes up little stories to explain events in his life that seem overwhelming, in an attempt to bring everything under control.
IMAGINARY FRIENDS He's discovered the power of words to make things happen, and he uses his language skills to try to take charge of a life that seems complex, demanding, and ever changing. Imaginary friends who are completely at his beck and call help him handle this world. They are very healthy household additions.
Language Development
Physical Development weight: 25-44 pounds height: 34-43 inches develops a taller, thinner, adult-like appearance develops a full set of baby teeth needs approximately 1,300 calories daily sleeps 10-12 hours at night sleeps through most nights without wetting the bed (occasional accidents are still quite common) uses the toilet with some help (many boys may not be ready for toilet learning until sometime during their third year) puts on shoes (but cannot tie laces) dresses self with some help (buttons, snaps, zippers) feeds self (with some spilling) tries to catch a large ball throws a ball overhead kicks a ball forward hops on one foot walk short distance on tiptoes climbs up and down a small slide by self pedals a tricycle walks on a line can stand, balance, and hop on one foot jump over a 6" barrier can feed self with a spoon and small fork; often butters bread with a knife can use toilet independently can brush teeth, wash hands, get a drink interested in handling food and cooking procedures
Social and Emotional Development seeks attention and approval of adults sometimes shows preference for one parent (often the parent of the opposite sex) accepts suggestions and follows simple directions enjoys helping with simple household tasks can make simple choices between two things enjoys making others laugh and being silly enjoys playing alone but near other children spends a great deal of time watching and observing enjoys playing with other children briefly, but still does not cooperate or share well enjoys hearing stories about self enjoys playing "house" enjoys imitating other children and adults answers whether he is a boy or a girl expresses interest in ethnic identities of self and others if exposed to a multicultural setting
Stages of Awareness Regarding Differences Noticing differences among people Can identify and match people according to physical characteristics Ask "why" questions No gender, ethnic constancy Susceptible to believing stereotypes Make false associations and overgeneralize Mask fear of differences with avoidance, silliness
Typical Problems How to encourage cooperative play Can be "clumsy" Feelings may be easily hurt Fears - unclear about what is real, and what is fantasy
Goals Provide language Encourage assisted problem solving Praise child Play with them - teach cooperation Support child through fears
Teaching Responsilbility: Chore Chart Pick up Toys Fold Dishtowels and Washcloths Match Socks Put small items in the garbage Give food to pets Water indoor plants
REPAIRING THE HARM Discipline now means clearly linking wrongdoing to its consequence, by having a child clean up the mess he's made, for instance, or by taking away a toy he threw. Although time-out is still the appropriate method of discipline, having your child fix the harm done can now be added to your handling of misbehaviour. Taking away unrelated privileges won't make much sense to him. Clear and immediate responses will help him learn the rules of behaviour.
YOU'RE THE ONE Manners are best learned by watching and imitating parents, and mealtimes are real opportunities for children to learn about manners while spending time with their parents. If you make the conversation at mealtimes fun and include your child in it, she's likely to want to cooperate.
For manners at the table, get the whole family to agree on what goes. And don't expect too much! When bad manners occur, they are usually used in rebellion, and you are better off ignoring them as much as possible or saving the criticism for later.
THE DOG GETS IN ON THE ACT You can lighten up and offer suggestions with a sense of humor: "You know why the dog stays so close to you while we're at the table? He knows you'll drop him all your food!" Be positive when you see your child trying to do better.
Ideas for Caregivers Set up a special time to read books
Encourage your child to engage in pretend play.
Play parade or follow the leader with your toddler.
Help your child to explore her surroundings by taking her on a walk or wagon ride.
Encourage your child to tell you her name and age.
Teach your child simple songs like Itsy Bitsy Spider, or other cultural childhood rhymes
Be patient with toileting. Many children (especially boys) will not be ready for toilet learning until after age three. Accidents will happen for a while; treat accidents calmly and matter of fact ly. Avoid shaming a child.
Encourage development of hand-eye coordination by providing large buttons or old beads to string on a shoe lace.
Play ball - show children how to throw, catch, and kick balls of different sizes.
Show children how to hop like a rabbit, tiptoe like a bird, waddle like a duck, slither like a snake, and run like a deer.
Talk frequently with children; use short sentences, ask questions, and listen.
Add new information to your children's sentences. "Yes that's a flower - it's a tall, red flower and it smells so good."
Teach children to memorize first and last names.
Provide books for children to read, and read the same books to them. Read poetry and nursery rhymes. Encourage a child to repeat a story and discuss the ideas and events. Read titles and point to important words on pages, packages, and street signs.
Encourage interest in reading and writing by sharing a grocery list or note for parents. Provide paper, small notebooks, and markers for use in dramatic play.
Count objects of interest; for example cookies, cups, napkins, or dolls. When possible, move one at a time as you and the children count. Measure, and have children help measure and count as you follow a recipe.
Explain why and how things happen with the help of a reference book. Help them do simple science activities like magnetic attraction, freezing water, planting seeds, making a terrarium, and flying kites on a windy day.
Provide sets - toys and other objects that go together. Discuss similarities and differences. For example, point out sequences in cooking. Let children experiment with faucets, tools, light switches, knobs, latches, and toys that come apart.
Sing simple songs. Make simple rhythm instruments: oatmeal box or coffee can drums, rattles of dry beans in a box, etc. Encourage a variety of body movements and dance to music of many kinds. Play musical games such as "London Bridge," "Ring-around-the-Rosie," and "Farmer in the Dell." Encourage free expression in art projects. Avoid asking "what" children are drawing. Three-year-olds may not know or care, but simply enjoy the process of drawing.
Ask parents to bring baby pictures. Talk about "When you were a baby."
Draw a face on an old sock and show children how to "talk" with puppets.
Talk about colors, numbers, and shapes in your everyday conversation. "We need ONE egg. That's a RED car. The butter is in this SQUARE box."
Ask for help with very simple household tasks such as putting the napkins by each plate, putting socks in the drawer, watering plants, or stirring the muffin batter.
The 4 Year Old Child
"Energetic" and "imaginative" best describe the 4-year-old. Often impatient and silly, they discover humor and spend a great deal of time being silly and telling you "joke."
A 4-year-old's language may range from silly words such as "batty-watty" to profanity. Loud, boisterous laughter may accompany such language. Imagination suddenly becomes greater than life for the 4-year-old, who often confuses reality and "make-believe." Wild stories and exaggerations are common. Four-year-olds feel good about the things they can do, show self-confidence, and are willing to try new adventures. They race up and down stairs or around corners, dash on tricycles or scooters, and pull wagons at full tilt. You still need to watch them closely as they cannot estimate their own abilities accurately and are capable of trying some outlandish and dangerous tricks.
Cognitive Development Are developing powers of abstracting, generalizing, and reasoning Can follow 3-step directions Can place objects in a line from largest to smallest Can recognize some letters if taught, and may be able to print own name Recognizes familiar words in books Understands the concepts of tallest, biggest, same, more, on, in, under, and above Counts 1-7 objects out loud - but not always in the right order Understands the order of daily routines Asks a lot of questions, including ones on birth and death Enjoys singing simple songs, rhymes, and nonsense words Learns address, and phone number, if taught Names 6-8 colors and 3 shapes Basic understanding of concepts related to number, size, weight, colors, textures, distance, position and time Has long attention span and finishes activities
Language Development Children in this age range enjoy stories and can answer simple questions about them. He or she hears and understands nearly everything that is said to them at home or at pre-school. Your child's ability to hear properly all the time should not be in doubt. If you are in doubt about your child's hearing, see a clinical audiologist. If you are in doubt about language comprehension, see a speech-language pathologist.
Sentences are becoming longer as your child can combine four or more words. They talk about things that have happened away from home, and are interested in talking about pre-school, friends, outings and interesting experiences. Speech is usually fluent and clear and "other people" can understand what your child is saying most of the time. Your child speaks clearly and fluently in an easy-to-listen-to voice. He or she can construct long and detailed sentences. He or she can tell a long and involved story sticking to the topic, and using "adult-like" grammar. Most sounds are pronounced correctly, though he or she may lisp as a four year old, or, at five, still have difficulty with "r", "v" and "th". Your child can communicate easily with familiar adults and with other children. They may tell fantastic "tall stories" and engage strangers in conversation when you are out together.
Plays with words and sounds May talk using some 'baby talk' Ask questions beginning with 'what', 'who', 'where' and 'why' May know more than 1,200 words They can talk about yesterday and tomorrow
Physical Development Weight: 27-50 pounds Height: 37-46 inches Needs 10-12 hours sleep each night. Like to demonstrate new skills mastered. Feel that they are bigger now. They are not very good at pacing themselves, and will get tired and cranky if not offered enough quiet activities.
Small Muscle Development: Dresses self without much assistance (unzip, unsnap, unbutton clothes, lace but not tie shoes). By four years, a child can hold a pencil correctly. Draw a picture of a human figure with six parts. Add features such as hair, eyes, ears hands, and feet by 4.5 years of age. Can copy, following capital letters and forms. Small muscles have developed enough to use a paper punch and scissors. Now able to use a spoon, fork, and dinner knife to eat. Can feed self, brush teeth, comb hair, wash, and dress, hang up clothes. Stacks and balance 10 or more blocks. Forms shapes and objects out of clay or play dough. Independently thread small beads on a string.
Large Muscle Development: Use of large muscles to skip, jump, race, throw a ball, climb, gallop. Catches, bounces, and throws a ball easily. Likes to jump over objects, run, gallop, bike, skip, turn somersaults, climb ladders and trees, hop on one foot and moves around obstacles with ease
Social and Emotional Development Appear interested in and responsive to his environment. Need a lot of opportunity for exploring, investigating and talking Much more independent of adults than 3 year olds Enjoy companionship of friend More interested in people their own age Play more in groups. Boys tend to prefer the same sex in play situations although both sexes seem to play with children of the opposite sex Will reenact the roles of familiar adults in their daily environment. Imitates parent of the same sex, particularly in play Are more cooperative Beginning to use words to sort out differences instead of hitting Fairly confident Beginning to develop some fears and anxieties need sensitivity, security from adults in dealing with these new concerns. Begins to understand danger - at times can become quite fearful. Also, has difficulty separating make-believe from reality. Sometimes are physically aggressive and assertive Enthusiastic (at times in a hurry) Takes turns and shares (most of the time); may still be rather bossy Seeks out adult approval Understands and obeys simple rules (most of the time) Changes the rules of a game as she goes along likes to talk and carries on elaborate conversations Capable of feeling jealous Boastful - enjoys showing off and bragging about possessions Lies sometimes to protect self and friends, but doesn't truly Understand the concept of lying - imagination often gets in the way May name call, tattle freely Likes to shock others by using "forbidden" words Expresses anger verbally rather than physically (most of the time) Still throws tantrums over minor frustrations Enjoys pretending, often with imaginary playmates Pretending goes far beyond "playing house" to more elaborate settings like fire station, school, shoe store, ice cream shop Loves to tell jokes that may not make any sense at all to adults Can feel intense anger and frustration Has vivid imagination and sometimes imaginary playmates
Stages of Awareness Regarding Differences Noticing differences among people Can identify and match people according to physical characteristics Ask "why" questions Susceptible to believe stereotypes Mask fear of differences with avoidance, silliness
Suggested Activities Allow plenty of physical activities. Provide simple games with rules so your child can learn the basis of cooperative play. Provide music, songs, picture and storybooks, and plenty of opportunities for drawing and painting. Give them lots of love, fun, approval and encouragement.
Goals Stop violent behaviour Super Hero play should have non-violent rules Emphasize appropriate play Do not react angrily Rules about swearing must be in place Teaching Responsibility: Chores can include Pick up Toys, Fold Dishtowels and Washcloths, Match Socks, Put small items in the garbage, Give food to pets, and Water indoor plants.
Posted at 3/19/2009 10:47:48 am by Cahyani
next
|