CahyaniSeptember 11th 1980 (Age 31) Well, u are now entering my site of thoughts.
Hope u'll enjoy these monologs.
Don't hesitate!
|
 |
May 6, 2011
Baca dari bawah ya, ini compile dari twitter
Tiba2 ada pengusaha restoran besar yang dateng mau nyoba masakan
prancis di situ. Eh dia suka. Dilamarlah UNyil untuk jadi koki restoran
dia»
besoknya si Menik ngajak Unyil windowshopping.
Windowshopnya ke kawasan toko baju penganten. Weits! Ternyata Menik lagi usaha... :-P
Posted at 5/6/2011 11:23:37 am by Cahyani
next
July 30, 2010
Bingung mau mulai dari mana sebetulnya, tapi aku betul-betul perlu untuk menuliskan ini. Pengakuan atas kebahagiaan kita bisa dibilang adalah satu cara untuk bersyukur.
Tentu saja, sesedikit apapun nikmat yang kita dapatkan tetap harus disyukuri. Apalagi nikmat yang besar seperti yang kuperoleh ini.
Apakah kita membicarakan tentang para suami? Ya.
Kemarin lusa saat aku dan suamiku meluangkan waktu 'bersilaturahmi' dengan kursi XXI... :-P, ada sms masuk dari sahabat kami menanyakan hal-hal yang terkait dengan bengkel kaca. Dia harus memecahkan kaca mobilnya karena anak bayinya terkunci di dalam mobil. Tentu saja bersama kuncinya. Nah, dia harus segera mengganti kaca itu sebelum suaminya pulang. Karena..... yah, seperti kita tahu, ada beberapa hal yang tidak kita ingin suami kita tahu karena satu dan lain hal. Terutama karena kita mengkhawatirkan reaksi sang suami atas 'kelalaian' yang kita lakukan.
Lalu di hari berikutnya, seorang yang cukup dekat denganku kebetulan mendapat larangan keluar rumah sehingga pengajian yang dipimpinnya harus datang ke rumah. Sebabnya, di pekan sebelumnya ketika beliau berangkat untuk mengisi pengajian, anak-anak terlantar mandi sore dan kebetulan nasi di rice cookernya habis. Bagi suaminya, itu kelalaian yang cukup besar. Sang istri pun menerima ultimatum tersebut, sepertinya dengan cukup besar hati.
Yang mengganggu pikiranku seketika adalah kesan yang kutangkap dari interaksi mereka ketika kami bertemu. Komunikasi di antara mereka terlihat cukup bagus! Lalu kenapa kelihatannya si istri betul-betul harus menjadi seorang yang tak pernah berbuat salah? Tentu saja tidak ada seorangpun yang dengan sengaja berbuat lalai. Terutama terkait dengan pengasuhan anak. Bukankah cinta orangtua kepada anak luarbiasa besar dan antara ayah atau ibu punya cinta yang sama besarnya. Dan bila anak terluka atau sakit, bukankah siapapun yang kebetulan sedang menjaganya tidak pernah punya niat menjadi lalai dan membiarkannya terluka?
Anakku pernah hampir tertimpa televisi, di dekatku!!! Dia memanjat lemari tv dan tvnya roboh. Kebetulan ia masih dalam jangkauan tanganku dan aku hanya sempat mendorong jatuhnya televisi supaya tidak mengenai badannya, meski kakinya akhirnya kena juga. Dan memar, untung tidak retak atau patah. Dan untungnya suamiku tidak mempertanyakan kalimat klise itu "emang uminya lagi ada dimana?", meskipun dia punya pertanyaan itu di kepalanya. Karena kalau sampai dia bertanya, aku akan menjawab dengan sangat emosi, "tentu saja aku ada di sebelahnya. bagus karena dengan demikian tvnya tidak jatuh ke badannya dan merusak organ dalamnya. kenapa kau bertanya seakan2 aku tidak ada di sana ketika hal itu terjadi, dan mengira aku bukanlah orang yang cakap untuk menjaga anakku sendiri?"
Well, temans, kebetulan aku adalah orang yang sensitif ketika diragukan kemampuanku dalam memegang amanah. Aku perfeksionis dan capable. Jadi jangan mempertanyakan kemampuanku, Bila suatu hal memang berjalan salah, berarti hal itu betul-betul sesuatu yang tidak kurencanakan. Tidak sengaja bro! Sorry... Jadi lebih baik mencari solusi dari masalahnya daripada menyalah-nyalahkan orang. Kenyataannya, kau sendiri pun tak merasa bahagia ketika kebetulan lalai dan merusak sesuatu kan? Tak perlulah ditambahi dengan jari telunjuk yang menuding di depan wajahmu.
Alhamdulillah, secara karakter, memang suamiku bukan seorang yang pemarah. Selama 7 tahun menikah, aku masih bisa menghitung berapa kali dia marah dengan sebelah tangan saja. Marahnya pun bukan ngomel seperti aku, tapi diam. Diam yang mengerikan!!! Beda dengan aku yang cepat meledak dalam emosi sesaat, dan ngoceh untuk hal-hal sepele.
Tapi bila penyebab marahku adalah hal yang mendasar, biasanya aku justru harus diam dulu dan mengumpulkan argumen, berusaha melihat dari sudut pandangnya..dan bila memang hal itu tidak dapat diterima dari sudut manapun, maka aku akan menyatakannya dengan jelas. No more of that.
Alhamdulillah berikutnya adalah kami, aku dan suami sejak sebelum menikah punya syarat yang sama untuk pasangan. Introspektif. Tak ada manusia sempurna, yang penting selalu memperbaiki diri supaya menjadi lebih baik. Maka sampai hari ini kami masih saling berusaha memperbaiki. Tapi sebelum bisa saling memperbaiki, pertama-tama kami harus mampu berkomunikasi dengan sehat. Selalu menyatakan perasaan dan pikiran kami.
So, you see, bukan cuma perempuan yang bisa punya salah... dalam hal ini kami sama. Sama-sama manusia, bukan dewa dewi.
Semakin banyak kami bicara dan bertukar pikiran, kami makin memahami esensi satu sama lain. Yang terbaik adalah, kami memahami joke yang saling kami lempar, sepakat pada hal-hal mendasar seperti bagaimana memperlakukan anak dan orangtua, kami bisa mengharapkan reaksi tertentu pada aksi tertentu seperti aku akan kesal bila ia pulang malam tanpa pemberitahuan. Dan aku tak bisa mengharapkan reaksi spontan darinya untuk keinginan spontanku. Seperti misalnya, bilang di jalan " Pengen mie ayam deh..." lalu berharap dia akan menepi di tukang bakso terdekat. Mimpi kali yeee. hehehe... Alasannya adalah "karena kamu tidak bilang pengen beli mie ayam sekarang juga sih...".
Pelajaran berikutnya tentang hidup bersama Makhluk dari Mars, "dont expect them to be sensitive." Tanpa kalimat eksplisit, mereka tak akan paham apa maumu. hahaha...
Tapi suamiku sayang sudah mulai memahami sedikit gaya makhluk Venus. Misalnya dia menyiapkan waktu khusus untuk jalan-jalan berdua denganku. Bukan makan berdua, nyamnyam, dengan dia sibuk memelototi gadgetnya, selesai makan pulang. tapi yang penting adalah menikmati kebersamaan sambil makan, atau jalan, atau sekedar windowshopping dan sibuk membahas apakah suati benda layak dibeli atau tidak. Kebersamaan adalah tentang mengisi satu sama lain.
Maka, seandainya anakku terkunci di mobil. Aku tidak akan langsung memecahkan kacanya. Aku akan telpon suamiku, dan tanya: "Dimana kunci cadangan? Anakmu terkunci di dalam mobil..atau bolehkah kupecahkan saja kacanya?" :-D Aku suka berbagi masalah. :-P
Dan bila anak2 belum mandi sore saat kutinggalkan, dan kebetulan pula nasi di rice cooker habis. Aku akan mengharapkan mereka sudah mandi sore ketika aku pulang, dan nasi sudah kembali penuh di rice cooker. Apa pula susahnya masak nasi pakai rice cooker? Kalaupun tidak, pasti ada alasannya kenapa mereka belum mandi atau kenapa tak ada nasi. Dan siapapun yang marah, jelas tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Kami berbagi masalah, dan berbagi solusi.
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Posted at 7/30/2010 11:35:26 am by Cahyani
next
May 20, 2010
Dalam kuadran manajemen waktu, ada empat kategori pekerjaan.
1. Penting-Urgen,
2. Penting-Tidak Urgen
3. Tidak Penting-Urgen.
4. Tidak Penting-Tidak Urgen.
Penting=harus dilakukan...Urgen=Sekarang juga!
Tidak Penting=sebisa mungkin jangan dilakukan.
Tidak Urgen=Tidak harus sekarang.
Sebagai ibu rumah tangga, seringkali aku terlindas pada hal-hal yang urgen. Penting maupun tidak penting. Membereskan rumah yang tak ada habisnya, mengurus anak yang aktif, dan memenuhi satu kewajiban ke kewajiban berikutnya bagaikan pemadam kebakaran. Ini membuatku merasa hal-hal lain yang juga penting bagi diriku kurang mendapat perhatian.
Misalnya, aku ingin menghafal AlQur'an.... ini tidak bisa dilakukan di tengah keributan rumah. Aku ingin bisa tilawah dengan tenang 1 juz sehari, anehnya, dulu ketika banyak waktu luang aku juga tidak bisa melakukannya. Tapi sekarang ketika waktu sempit, rasanya bila mendapat waktu satu jam yang damai aku -insyaAllah- bisa melakukannya. Aku ingin menulis. Merancang. Berkontemplasi. Membaca.
Lalu, tiba-tiba aku membaca kalimat ini... "Semua janji untuk menjadi, tidak lebih penting daripada kesungguhan untuk menjadi.
Mohon Anda periksa, lebih panjang deret janji Anda, atau deret bukti pencapaian dari janji Anda?" (Mario Teguh)
O My God. Aku sungguh-sungguh ingin menjadi... Hafidzah. Fasilitator HS yang baik. Janji yang belum terpenuhi. Aku ingin menjadi, bagaimanapun caranya. Meskipun....sepanjang siang diriku sepenuhnya untuk keluargaku. Malamku adalah milikku. Kan kupenuhi janjiku ya Allah...janjiku pada diriku sendiri, demi cintaMU.
Posted at 5/20/2010 12:21:46 am by Cahyani
next
March 13, 2010
sekolah kebun cukanggalih

Alamat: Jl.Unggul (masuk dari jl.Citra-Curug depan pemancingan) Rt14/03. Kp.Cukanggalih. Panongan. Tangerang. telp.59494731
Gelombang 1 s.d -- > 2 April 2010
Gelombang 2 s.d --> 7 Mei 2010
Posted at 3/13/2010 1:41:54 pm by Cahyani
next
December 20, 2009
Warisan Ideologi Orangtua ke Anak
Hm..well, what do you know... akhirnya ada juga bahan yang bisa kuomongin di blog. Setelah berbulan-bulan ga nulis, karena alasan fesbuk yang berhasil membuatku malas menulis banyak, secara ideku bisa dirangkum dalam dua kalimat saja...
Tapi yang ini cukup membuatku berfikir lama dan berkontemplasi..
Keponakanku, usianya sekitar 5 tahunan, melempar sebuah pernyataan kepada keponakanku yang lain, usianya sekitar 9 tahun. Pernyataan yang sangat keras dan kasar dan sungguh menciutkan hati kami para orangtua yang mendengarnya.
Mereka sedang bertengkar -entah apa sebabnya- dan anak kecil yang emosinya mudah tersulut itu berteriak keras, "Sana pulang..! Orangtuamu kan orang miskin...!"........................................................ (silence)...................................
Apa yang ingin kukatakan di sini?
Bahwa anak-anak mewarisi kata-kata, pikiran dan pemahaman dari orangtuanya. Bahkan ideologinya. Bagaimana kita memahami konsep si kaya dan si miskin? Konsep liberalisme dan komunisme? Ketauhidan dan kekafiran? Semua itu akan merefleksi pada pemahaman anak-anak kita.
Bagaimana kita mengajari si kecil bersikap? Menjerit-jerit saat marah? Berteriak pada orangtua? Acuh saat dipanggil? Atau menunjukkan jari ke wajah orang lain?
Naudzubillahi min dzalik...
Husnaku...Hamzahku... Ya Allah, lindungilah mereka dari pengaruh buruk orangtuanya atau lingkungannya.
Memang, nantinya ketika akil baligh mereka mungkin akan memiliki kedewasaannya sendiri. Akan mendapat hidayah bila membuka hatinya pada kebenaran dan selalu bisa berpaling pada AlQuran bila ajaran masa kecilnya buruk.
Tapi akhlak adalah pelajaran awal yang sangat berharga yang cara pengajarannya adalah dengan contoh. Bila membeli rumah pertimbangannya adalah lokasi, lokasi, lokasi... Maka membeli akhlak baik caranya juga cuma tiga, contohkan, contohkan, contohkan.
Astaghfirullahaladzim...
Kembali pada ucapan yang 'keras' tadi. Keponakanku yang satunya hatinya terluka, harga dirinya bagai dibanting ke tanah dan diinjak-injak. Sebagai seorang anak, yang masih berpegang pada impresi materi, dia kehilangan kata-kata untuk membela diri.
Di perjalanan pulang, terinspirasi oleh pemandangan pemakaman, aku menyinggung terapi pengobatan untuk sakit hatinya si keponakan pada orangtuanya. "Ceu, materi bagus nih untuk Azka, sekaya-kayanya orang pada akhirnya rumah masa depannya sama-sama 2x1 saja..."
Niat awalnya memang untuk mengobati sakit hatinya si anak. Tapi kupikir, si orangtua mungkin juga bisa menggunakannya untuk sakit hatinya sendiri. Kan yang dihina justru orangtuanya. Aku sendiri tidak menganggap mereka miskin sama sekali, karena mereka punya rumah besar milik sendiri, kendaraan milik sendiri, gaji pns yang lumayan, makan ikan atau ayam tiap hari, dan bahkan membelikan mainan anak lebih sering daripada aku membelikan mainan untuk anakku. Bahkan juga anak-anak kami yang sering main di rumahnya juga sering ikut makan di rumahnya. Karenanya aku tidak melihat alasan kenapa harus tersinggung atau sakit hati. Kecuali memang mereka melihat dirinya sendiri demikian.
Anyway, aku sungguh menyayangkan terjadinya insiden ini. Lebih jauh, aku juga menyayangkan betapa anak-anak ini telah terpapar konsep dan kata-kata yang tidak 'ramah' lingkungan sosialnya. Dengan pemahaman demikian, si anak telah mengisolasi dirinya sendiri dari pergaulan yang cukup luas. Dia membatasi dirinya sendiri dengan berinteraksi hanya dengan mereka di level atas. Sehingga bila roda kehidupan nanti membawanya ke 'bawah' apa yang masih akan tersisa baginya?
Posted at 12/20/2009 11:08:26 am by Cahyani
next
September 9, 2009
Sebelum tidur aku membacakan buku berjudul "I Love Islam" pada Husna. Tentu saja aku tidak membacakan persis seperti isi bukunya karena berbahasa inggris melainkan menggunakan terjemahan bebasku saja.. Ketika tiba pada bagian Puasa di bulan ramadhan, Kumkum bertanya pada ayahnya kenapa kita harus berpuasa? Karena Allah memerintahkan kita berpuasa. Allah sayang pada orang-orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa nanti boleh masuk surga.
Husna,"Surga itu apa, Mi?". "Surga itu tempat yang enaaaaak banget. Di dalamnya ada buah-buahan yang manis-manis." . "Kelengkeng!" Kata Husna. "Iyyaa..terus ada mangga, rambutan, jeruk, pokoknya buah yang enak-enak deh. Trus kalo Kaka pengen eskrim, ada. Mau yang pink, ada. Putih, ada. Coklat, ada." Hmm.... matanya langsung berbinar-binar.
"Kalau mau masuk surga harus rajin solat, puasa..."kataku. "Kaka rajin solat, sama puasa". "Trus harus sayang sama kaka-adik, sayang sama umi-abi, sama temen juga...". "Ga boleh mukul ya, Mi? Azzam sama Asad suka mukul tuh Mi..." Husna. "Ya..kakak kasih tau mereka kalau mau masuk surga jangan suka mukul..."
Husna tersenyum, di matanya ada tekad akan mengajari sepupu-sepupunya esok hari tentang pelajaran hari ini. Surga.
Posted at 9/9/2009 10:56:44 pm by Cahyani
next
May 13, 2009
From The X-Files to We Got Married, I know I’m still the same girl
Awalnya adalah saat adikku menunjukkan sebuah tayangan reality show dari korea berjudul We Got Married. Ceritanya, ada beberapa artis korea yang dipasangkan pura-pura untuk menjalani kehidupan pernikahan pura-pura sehari penuh tiap pekannya. Dinamika pernikahan pun akan terlihat sedikit banyak dari interaksi antara pasangan pura-pura itu.
Menurut kebiasaan Korea yang penuh penghormatan dan sopan santun, kecanggungan para pasangan itu membuat acara ini lumayan menarik. Lalu ada satu pasangan ini yang menarik perhatianku karena gaya mereka yang menyegarkan. Kim Hyun Joong dan Hwang Bo, disatuin jadi JoongBo. Setelah sekian lama sejak waktu SD dulu ketika nonton the simpson aku pun tertawa geli. Meskipun usia mereka berjarak enam tahun dengan si istri yang lebih tua, komentar sehari-hari mereka betul-betul memancing tawaku tak henti-hentinya. Pasangan yang satu ini sepertinya mempunyai kemistri yang berkembang diantara mereka, tak seperti pasangan pura-pura lainnya. Namun sekali lagi mereka adalah orang korea yang menjunjung tinggi budaya timurnya dan selalu menahan diri dari mengekspresikan perasaan.
Dan itulah yang membuat aku penasaran. Sungguhkah mereka hanya berinteraksi sepekan sekali di depan kamera saja? Ataukah di belakang layar mereka telah mengembangkan sebuah hubungan romantik yang tertutup dari publik? Hingga karena kesibukan masing-masing mereka dalam pekerjaan, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk melepaskan reality show ini. Dan membuat para penontonnya betul-betul kecewa. Kenapa mereka menahan diri dari menunjukkan ‘perasaan’ yang terasa jelas adanya namun tidak kasat mata. Gemes.
And that’s exactly the same reason why I kept following the X-Files series…
Justru karena cinta Mulder dan Scully yang terasa tidak juga pernah dinyatakan oleh mereka. Berdasarkan skenarionya memang begitulah yang membuat orang-orang penasaran. Menggemaskan…! Bila di film Hollywood lain hubungan cinta pastilah ditunjukkan dengan hubungan badan yang murah meriah, kita tidak akan menemukan hubungan badan sama sekali dalam film X-Files. Jangankan hubungan badan, sentuhan tangan selama satu detik atau tatapan mata selama dua detik saja sangat berharga bagi para penonton X-Files yang penuh harap..
Begitulah adanya. Dan itulah jenis romansa yang (mungkin) selalu berharga di mataku. Yang membuatku menunggu lanjutan serial X-Files itu adalah hal yang sama yang membuatku menyimpan rindu padamu (Goz). Dan karena dua tayangan itulah kutahu, aku masihlah orang yang sama seperti 13 tahun lalu.
Posted at 5/13/2009 6:21:52 pm by Cahyani
next
April 15, 2009
Sejak hasil quick count pertama kali keluar, sudah ada yang minta saya untuk membuat analisa. Meskipun berbagai pertanyaan muncul, tapi muaranya satu : mengapa PKS hanya dapat (sementara ini sekitar) 8% suara?
Hal pertama yang harus diklarifikasi adalah bahwa saya tidak memiliki basis data maupun latar belakang keilmuan yang cukup untuk memberikan analisa yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kedua, saya juga bukan orang yang berwenang dalam menentukan langkah-langkah strategis PKS ke depannya, sehingga tak mungkin bagi saya untuk memberitahukan bagaimana sikap resmi PKS berikutnya. Ketiga dan terakhir, setelah saya pikir-pikir, nampaknya analisa yang ada di otak saya terlalu rumit untuk dituangkan dalam sebuah artikel atau dalam pembicaraan-pembicaraan singkat lagi santai.
Yang lebih penting daripada analisa, hemat saya, adalah memberikan respon yang tepat terhadap semua fenomena. Penting sekali bagi setiap Muslim untuk terus mengingatkan dirinya bahwa hidup ini cuma aksi-reaksi. Allah SWT sebagai pemberi aksi, dan kita dituntut untuk memberikan reaksi yang tepat. Bocorannya sudah diberikan sejak dahulu kala. Rasulullah saw. pernah menjelaskan bahwa hanya ada dua hal yang menyebabkan kehidupan seorang Muslim begitu luar biasa, yaitu : sabar dan syukur. Respon yang perlu kita berikan tidak akan keluar dari yang dua ini.
Prinsip pertama yang harus dipegang adalah berprasangka baik kepada Allah SWT. Semua kehendak-Nya pasti terlaksana, dan tak ada satu pun ciptaan-Nya yang tanpa hikmah, baik berupa material maupun fenomena. Tapi tak cukup berhenti sampai titik itu. Kita pun wajib meyakini bahwa skenario yang dipilih oleh Allah adalah yang terbaik. Perbedaan dari evaluasi yang benar dengan menyesali nasib adalah pada perilaku berandai-andai. Sebenarnya akal manusia tidak punya kemampuan untuk menyusun skenario kehidupan, karena begitu banyaknya variabel yang terlibat.
Maka, pandanglah angka 8% itu dengan perasaan dekat dengan Allah. Jika hati merasa berat, maka bersabarlah. Kemudian cobalah tinjau fenomena ini dari berbagai perspektif yang akan membuat kita untuk mudah bersyukur.
Kenaikan dukungan dari 2,5% pada Pemilu 1999 menjadi 7,5% pada Pemilu 2004 tidak hanya ditanggapi dengan gegap gempita, namun ada juga sisi bahayanya. Kita sudah sama-sama mengalami tahapan ketika dakwah harus dilaksanakan seperti petak umpet dengan rejim penguasa. Kita juga mengalami tahapan ketika para da’i merasa gamang diterjunkan ke kancah politik. Kemudian, barangkali tempo hari adalah masa-masanya kita mencicipi euforia ketika dukungan dari masyarakat berlipat ganda dan PKS menjadi parpol yang sangat diperhitungkan. Namun pada saat yang bersamaan, ketika jatah kursi di DPR berlipat ganda, maka waktu pendewasaan diri bagi para kader pun disingkat hingga berkali-kali pula.
Pembagian tugas adalah sebuah keniscayaan. Ada yang harus duduk di Majelis Syuro, ada yang mesti menerima amanah di Dewan Syariah, ada yang ‘terpaksa’ menjadi pengurus DPP, DPW, DPD, DPC, hingga ke DPRa. Di luar jabatan struktural itu, ada juga yang mesti menjalani kaderisasi sebagai mutarabbi, ada pula yang menjadi murabbi (sekaligus mutarabbi juga, karena tarbiyah tidak mengenal kata ‘lulus’). Kenaikan suara yang signifikan tentunya memaksa kader untuk mengambil tanggung jawab yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Nampaknya, tidak semua kader siap.
Ini titik kekuatan sekaligus tantangan besar bagi PKS. PAN dan PMB, yang memiliki background Muhammadiyah, misalnya, punya sumber daya manusia yang sangat besar. Demikian pula PKB dan PKNU, mereka punya basis dengan SDM yang sangat masif. Di partai-partai lain, kadang kita temukan juga ‘kader karbitan’, yang pindah dari parpol satu ke parpol lainnya, lalu tiba-tiba menerima jabatan yang cukup tinggi. Politik uang atau apa, entahlah. Yang jelas, hal yang semacam ini sangat tidak disukai di PKS yang murni partai kader dengan jenjang kaderisasi yang sangat jelas.
Ketika dukungan naik menjadi 7,5%, tentunya tidak seluruhnya dari 7,5% itu merupakan kader. Banyak juga yang simpatisan; tidak terlibat di struktur PKS namun mendukung perjuangan PKS (dan tentunya, insya Allah memilih PKS). Jika angka 2,5% pada Pemilu 1999 cukup mendekati prosentase jumlah kader diantara keseluruhan masyarakat Indonesia, maka angka 7,5% pada Pemilu 2004 bergerak semakin jauh dari realita jumlah kader. Andaikan perbandingan kader dan simpatisan adalah 50:50, maka itu berarti hanya setengah dari 7,5% perolehan suara tersebut yang merupakan mesin politik PKS.
Target suara 20% dalam Pemilu 2004 juga mesti dilihat dari dua sisi. Tentu tidak ada salahnya mematok harapan setinggi langit, namun harus siap juga menghadapi kewajiban-kewajiban yang datang beserta cita-cita itu. Andaikan angka 20% benar-benar berhasil ditembus, itu artinya dukungan suara untuk PKS kembali berlipat ganda hingga nyaris tiga kali lipat. Kalau benar-benar mendapat 20% suara, bagaimanakah perbandingan antara kader dan simpatisan? Seberapa siapkah mesin politik PKS untuk mengelola tanggung jawab sebesar itu?
Kalau sudah bisa menerima angka 8% dengan hati lapang (baca : bersabar), tibalah gilirannya untuk bersyukur. Pandanglah angka 8% sebagai tanda cinta Allah kepada jalan dakwah ini. Segala puji bagi Allah yang tidak menuntut hamba-hamba-Nya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Kita punya waktu lima tahun lagi untuk membenahi apa-apa yang belum sempat kita benahi lima tahun ke belakang. Segala yang kendur bisa dikencangkan, yang lalai bisa dikoreksi, sementara mendewasakan diri untuk menerima tanggung jawab di marhalah dakwah berikutnya. Kita tidak perlu memaksa diri mengambil tanggung jawab ‘level 20%’ jika posisinya masih di ‘level 8%’.
Keadilan Untuk PKS
Menjelang Hari-H Pemilu 2009 kemarin, iklim perdebatan di kalangan umat Islam mencapai puncaknya. Dari wacana golput atau tidak golput, beralih pada topik kekecewaan terhadap parpol-parpol Islam, dan biasanya berujung pada kritik pedas terhadap PKS. PKS tidak seperti Al-Ikhwan Al-Muslimun lah, PKS tidak seperti Masyumi lah, PKS tidak seperti PK lah, dan seterusnya.
Nampaknya memang sikap paling bijak dalam menyikapi debat kusir adalah meninggalkannya. Kita semua (termasuk saya) harus belajar untuk mengimani sungguh-sungguh petuah Rasulullah saw. tentang hal ini. Pada akhirnya, debat kusir hanya mencederai ego masing-masing. Yang salah akan mencari pembenaran, dan yang benar akan menghadapi resiko sombong (ingat, yang sombong takkan masuk surga!). Kalau atmosfernya sudah dipenuhi keinginan untuk saling menjatuhkan, itulah saatnya untuk mundur.
Sebagian orang ‘menyerang’ PKS simply karena memang tidak suka. Akibatnya, setiap isu negatif soal PKS akan langsung dicerna, bahkan disebarluaskan ke milis-milis. Asalkan berita tentang PKS itu buruk, mereka akan langsung percaya tanpa mengecek sanad-nya. Kadang-kadang berita semacam itu mereka ambil dengan mudahnya dari media-media sekuler yang jelas-jelas memusuhi Islam, bahkan mereka pun pernah membicarakan tentang keberpihakan media-media tersebut kepada kekuatan anti-Islam. Untuk berita yang lain, mereka mau tabayyun. Untuk berita soal PKS, lain lagi hukumnya. Kalau mau direpotkan oleh yang seperti begini, maka waktu 24 jam sehari akan habis begitu saja. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mendesain rencana ke depannya untuk menangkis berita-berita tidak benar tentang PKS.
PKS memang seringkali diperlakukan tidak adil oleh sebagian pihak. Kalau melihat fenomena parpol-parpol Islam yang sulit bersatu, tiba-tiba semua pandangan diarahkan ke PKS, seolah-olah PKS-lah biang kerok tidak terwujudnya persatuan tersebut. Kemudian jika ada satu saja keburukan PKS, maka orang akan bersikap seolah-olah PKS adalah yang paling buruk dari semua parpol, bahkan yang paling buruk diantara semua parpol.
Banyak orang menyindir PKS karena menunjukkan keinginan untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat. Menurut mereka, PKS hanya akan dimanfaatkan saja oleh kekuatan sekuler di partai itu. Tapi ketika PKS menunjukkan sikap tegasnya belakangan ini (yaitu untuk menimbang ulang koalisi jika Partai Golkar ikut-ikutan dalam koalisi), nyaris tak ada yang mau memberikan apresiasinya. Padahal, sikap tegas ini menunjukkan bahwa PKS pun siap menunjukkan integritasnya untuk kepentingan umat. “Sungguh, umat terdahulu ada yang digergaji kepalanya dan disisir oleh sisir besi, namun mereka tidak mundur dari agamanya. Sungguh, demi Allah, urusan ini akan disempurnakan kelak. Akan tetapi kalian terlalu terburu-buru.” Begitulah penggalan nasihat Rasulullah saw. kepada umatnya yang kurang bersabar. Ingin berlagak raksasa padahal masih kelas liliput.
PKS memang banyak kekurangan, namun tidak jarang juga difitnah. Dari sekian banyak berita bohong yang disebarluaskan itu, berapakah yang dikembalikan dengan sebuah permintaan maaf? Sepanjang pengamatan saya di berbagai milis, belum ada. Mereka yang menebar berita bohong tentang PKS sama sekali enggan meminta maaf meskipun beritanya sudah terbukti bohong. Insiden memalukan yang kerap terjadi ini semestinya tidak membuat hati kita susah. Jelaslah bahwa diskusi yang sehat dengan oknum-oknum semacam ini sudah nyaris tak mungkin terjadi, karena egonya sudah mendahului akal dan moralnya. Jika mereka tak sanggup bersikap adil, barangkali memang kitalah yang ditakdirkan untuk menjadi orang yang lebih besar hatinya.
Melarikan Diri ?
Beredar pula sugesti-sugesti negatif. “Dulu saya aktif di PK. Sekarang, saya sudah muak. PKS tidak sama dengan PK. Militansinya jauh beda. Kualitas kader menurun jauh. Buat apa saya habiskan waktu dengan jamaah yang seperti ini?”
Buang waktu atau tidak, itu sepenuhnya keputusan dirinya sendiri. Jika memang tidak mampu lagi mengambil manfaat, maka itu adalah kelemahan dirinya sendiri. Hampir semua orang yang menyatakan dirinya ‘mantan aktifis PK / PKS yang kecewa berat’ tidak mau (atau tidak mampu) membuktikan klaimnya. Ada beberapa orang yang saya kenal dengan karakter seperti itu, namun ternyata ia bukan aktifis dimana-mana. Aktifisme yang dibangga-banggakannya di masa lalu itu cuma sebatas halaqah pekanan dan beberapa kepanitiaan saja, itu pun statusnya cuma ‘bantu-bantu’, bukan Ketua Panitia atau apalah. Sama dungunya seperti pernyataan Arbania Fitriani yang konon ‘membongkar rahasia PKS’ sebagai parpol yang hendak menyebarluaskan kultur Arab di Indonesia.
Para pengkhianat takkan pernah jadi kader yang baik. Komprador akan dipandang rendah, baik di negerinya sendiri maupun di negeri penyandang dananya. Paling tinggi, ia hanya akan jadi alat bagi orang lain.
Dalam pandangan saya, orang yang melarikan diri dari jamaah (jamaah apa pun, asalkan masih dalam tubuh umat Islam) ketika ia menjumpai kekurangan di dalamnya, sebenarnya telah memelihara sikap khianat dalam dirinya. Yang seperti ini takkan pernah puas, karena jamaah impiannya (yaitu jamaah yang sempurna tanpa cela) takkan pernah eksis. Lagipula, sikap mental meninggalkan kelompok yang butuh bimbingan bukanlah modal yang baik bagi seorang da’i (ingat kisah Nabi Yunus as.?). Meskipun ilmu agamanya selangit, namun jika masih terus-terusan menjadi barisan sakit hati, pasti bukan da’i namanya, dan pasti bukan dakwah kerjanya.
Mau kecewa sampai kapan? Mereka yang gampang memisahkan diri dari jamaah biasanya hanya jadi penggembira dan pengamat, bukan pekerja yang sesungguhnya. Paling banter hanya akan jadi Khawarij umat ini, dan bukannya Bilal ra. yang memompa semangat di Perang Badar, atau pasukan pemanah yang tidak ikut silau matanya dengan harta rampasan di Perang Uhud. Lucu juga membayangkan apa jadinya jika pasukan pemanah pada Perang Uhud itu terbagi dua : kelompok yang pertama lari menyongsong harta rampasan, kelompok yang kedua diam di posnya masing-masing kemudian kecewa dengan jamaah dan pergi meninggalkan medan perang. Di medan perang manapun, mereka yang pergi meninggalkan teman-temannya ketika tenaganya justru sangat dibutuhkan tidak akan pernah dicatat dalam sejarah.
Seorang pembawa acara di sebuah stasiun televisi swasta nampak kebingungan ketika ust. Hidayat Nur Wahid menceritakan sekelumit sejarah di balik berdirinya PK. Banyak orang tak menyangka bahwa dulunya beliau termasuk kelompok yang tidak setuju didirikannya parpol. Namun beliau tunduk pada syura’, memahami resiko dari pilihan yang diambil, dan konsisten bersama jamaah ini, menghadapi senang dan susahnya. Siapakah yang namanya lebih besar, ust. Hidayat ataukah barisan sakit hati yang hanya bersama kita di saat senang?
Bersabarlah, dan bersyukurlah. Jalan masih panjang.
---Akmal Sjafril--
Posted at 4/15/2009 2:26:57 pm by Cahyani
next
Banyak orang suka hidup dalam kenyamanan kebiasaan turun temurun, dan dalam apa yang 'wajar' dijalani oleh 90% masyarakat. Akupun sebetulnya tidak suka berkonfrontasi, tapi bila aku sudah memutuskan suatu hal yang penting dan kuanggap sangat penting...maka mungkin aku lebih suka bergeming pada keputusan itu, walaupun kontroversial kelihatannya. Seperti misalnya ketika aku....
'menawarkan lowongan pendamping hidup' pada suamiku.... yang sempat membuat sahabat-sahabat terbaikku mempertanyakan kelurusan niatku..
lalu ketika aku...
mengusulkan dan mendukung ide melepas status pns pada suami... yang sempat membuat orangtuanya tidak setuju, dan orangtuaku bertanya-tanya....
berikutnya, aku akan mendidik anakku dengan didikan rumahan, bukan sekolahan... walaupun sekolah gratis...!!! Ini pastinya juga akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih banyak di keluarga kami...
Dan seakan belum cukup, aku berencana untuk membuat anakku 'mampu' memenuhi (minimal sebagian) dari biaya hidupnya sendiri pada usia 12 - 15 tahun. Dan sepenuhnya mandiri ketika usianya 17 tahun. Mungkin ia akan tinggal terpisah dari kami saat itu, ataupun bila tinggal bersama maka ia akan harus membayar sewa kamarnya. InsyaAllah.
Kejam? Tidak sama sekali. Aku baru saja mendengar kisah khadimatku yang keempat anak laki-lakinya masih tinggal bersamanya, makan gratis dan dicucikan pakaiannya oleh ibunya meskipun sudah masuk usia menikah... Apa mereka pikir orangtuanya akan hidup selamanya untuk menyuapi mereka? Wake up boys..!
Posted at 4/15/2009 1:50:59 pm by Cahyani
next
April 8, 2009
Belajar menjadi ibu yang baik
Hari ini aku menyadari, bahwa gelombang perasaan anakku merupakan reaksi dari gelombang perasaanku.
Beberapa hari terakhir Husna bersikap sensitif, emosional, nyolot... bukan hanya kepadaku tapi juga kepada kawan-kawan mainnya yaitu sepupunya. Rupanya, selain memang sedang ga enak badan karena batuk pilek, dia juga menyimpan gelombang kegelisahan karena sering kumarahi. Memang akhir-akhir ini aku sering memarahi dan mengancamnya karena makannya terlalu lama. Bahkan bukan hanya saat makan aku memarahinya tapi juga setiap kali dia bersikap 'cari perhatian berlebihan'. Berkali-kali dalam sehari aku marah lagi dan lagi...
Penyebab aku marah biasanya adalah karena aku tidak sabar meladeninya makan, mandi, bab, juga setiap kali dia bertengkar dengan sepupunya. Aku gelisah karena Husna dan juga anak-anak lainya selalu ribut bermain di rumah ketika bayiku sedang tidur. Aku tidak merasakan kedamaian karena setiap saat selalu khawatir bayiku akan terbangun karena keberisikan, lalu aku tidak akan bisa melakukan apapun selain menggendongnya. Padahal Husna juga tiap sebentar memintaku untuk memperhatikannya. Aku terganggu oleh konstannya perasaan khawatir tidak akan bisa mengerjakan apapun dengan tenang.
Sampai tadi, karena Husna demam malam sebelumnya maka aku lebih memperhatikannya dan tidak memaksanya memakan apapun dan membiarkan dia memilih makanan apa yang diinginkannya. Sebanyak atau sesedikit apapun yang masuk ke mulutnya kubiarkan dilakukannya sendiri. Daripada dia memuntahkan lagi makanannya dan perutnya makah jadi kosong sama sekali. Si Bayi Hamzah yang tenang selama ada yang gendong, hanya dibawa pulang oleh khadimatku untuk kususui. Dan selebihnya dia diletakkan di kain ayunan di rumahnya atau rumah kakak iparku sepanjang hari tadi. Alhamdulillah Bayi Hamzah budak bageur...anak baik, tidak rewel dipegang siapapun.
Lalu apa yang terjadi pada Husna? Dia kembali menjadi anak 3 tahun yang damai.. Mendapat cukup perhatian dari uminya, dan tidak dimarahi. Aku pakai metode baru bila dia tidak menuruti kataku, aku bilang aku akan marah kalau dia tidak menurut..hanya saja, kali ini marahku tidak pakai urat tapi dengan diam sama sekali dan tidak bereaksi pada panggilannya. Dia akan paham kalau aku marah kemudian berusaha meluruskan sikapnya dengan patuh dan berskap manis sampai aku mau melihatnya lagi... Dia panggil "umi...umi... sambil mengelus rambutku atau tanganku, dan membatalkan niatnya untuk kabur dari tidur siang. "Husna ga jadi main umi...". Manis sekali.
Posted at 4/8/2009 1:38:41 am by Cahyani
next
|